First Investment Project – SMBR

First Investment Project – SMBR

Image result for saham baturaja

Artikel ini sekedar pengingat pengalaman saya dalam berinvestasi dan mengingat bagaimana saya memilih saham ini, bagaimana saya menabung di saham dan bagaimana saya bisa bertahan hingga akhirnya saya mendapatkan keuntungan yang sangat signifikan di saham ini.

Semen Baturaja, merupakan salah satu perusahaan BUMN semen yang berbisnis di pulau Sumatra. Dan untuk lebih lengkapnya tentang perusahaan ini mungkin bisa mengunjungi halaman http://www.semenbaturaja.co.id/

Pertama kali saat mendengar IPO Semen Baturaja di tahun 2013, saya langsung berburu berbagai informasi yang ada di internet (saat itu saya belum paham ada prospektus yang disebar luas). Seluruh informasi yang saya dapatkan merupakan informasi yang menceritakan prospek bisnis semen dan pembangunan infrastruktur di Indonesia khususnya Sumatra. Ini saya jadikan acuan saya dalam menggali informasi seputar Semen Baturaja. Hingga beberapa hari mencari di Internet, saya menemukan sebuah website yang dikelola oleh Pak Teguh Hidayat, dimana saat itu sedang membahas tentang Semen Baturaja – Artikel Semen Baturaja. Penjelasan seputar semen baturaja dari sisi fundamental dibahas secara mendetail, dan artikel ini memberikan alasan pertama kenapa harus ikut dalam IPO SMBR nanti. Berkat tambahan informasi dari internet, saya yang buta cara menghitung harga wajar saham dengan gagahnya menentukan target SMBR Rp 1.000 di tahun 2018. Kurang lebih alasan kenapa tahun 2018 menjadi target saya akan menjual SMBR adalah sebagai berikut

  1. SMBR merupakan “Raja” semen di Sumatra Selatan.
  2. Pembangunan infrastruktur di Sumatra akan berkembang pesat.
  3. Acara kegiatan Asian Games 2018 dimana Palembang menjadi tuan rumahnya.

Dengan alasan inilah saya “berjanji” untuk berinvestasi 5 tahun di SMBR dengan potensi keuntungan 100%.

Dihari pertama perdagangan saham Semen Baturaja, saya sudah stand by untuk membeli SMBR. Namun karena sudah terbang dan modal tidak mencukupi, saya tidak membelinya. Namun beberapa hari kemudian harganya turun dan akhirnya saya membeli saham SMBR di harga 550. Dan ini kisah saya dan SMBR dimulai hahahahaha…

Pertama kali membeli SMBR, saya langsung memasukan seluruh dana saya di SMBR, alasannya adalah dana saya masih kecil jadi saya masukan semuanya juga engga berasa. Dan saya baru lihat-lihat kembali SMBR beberapa bulan kemudian, dan hasilnya adalah minus. Dan ketika minus, saya melakukan hal yang sama seperti teman-teman lain lakukan, bertanya kepada komunitas. Namun dulu saya engga kenal siapa-siapa, buka akun saja sendiri dateng ke kantornya, itupun engga dikasi nomer marketingnya. Jadi saat itu saya tidak bertanya kepada komunitas melainkan cari-cari lagi berita tentang SMBR di Internet. Sayangnya saat itu saya tidak menemukan hal yang menarik dan harga semakin turun. Panik ? Tentu saja saya panik, namun saya sudah pasrah saja dan saya tidak mau CL karena sudah berjanji hingga tahun 2018. Maka yang saya lakukan saat itu adalah belanja SMBR, ketika ada sisa dana saya belanjakan SMBR. Berbulan – bulan saya melakukan hal yang sama, saya hanya belanja SMBR sambil mengikuti cerita SMBR di internet.

Dan sebuah momen yang sangat kebetulan, ternyata saya memiliki junior yang tinggal di Palembang. Singkat cerita saya mendapatkan informasi bahwa penjualan SMBR masih berjalan seperti biasa, tidak ada kelangkaan, stock semen ada dan terus laku. Disini saya sedikit tenang, setidaknya saya menghibur diri bahwa perusahaan dan distribusinya masih beroperasi seperti biasa. Disini saya masih terus berbelanja, secara target nominal untuk membeli SMBR masih belum terpenuhi. Selain informasi ini, saya juga mendapat berita bahwa SMBR berhasil melunasi hutang-hutangnya, menurut saya ini hal yang bagus. Perusahaan masih beroperasi dan tidak terbebani hutang, maka kedepannya penerimaan SMBR akan dia nikmati sendiri.

Apakah setelah saya mendapatkan informasi ini SMBR beranjak naik ? Sayangnya tidak, Disinilah ujian pertama saya, harga terus turun hingga mencapai lownya di 242. Teman-teman di sekitar saya yang tau dengan rencana hold SMBR hingga Rp 1.000 memberi nasehat kepada saya

Kuh, saham ini downtrend. Kalo gw jadi lu, gw jual dulu lalu gw cari barang lainnya. Kayak SRIL khan lebih bagus kalo modal SMBR lu dimasukin ke SRIL.

Kuh, masih yakin SMBR bisa ke 1000 ? Kenapa engga dijual aja sih ?

Namun saya berusaha cuek saja, selain karena tinggal dikit lagi target dana di SMBR tercapai, dan saya tidak menemukan berita buruk tentang SMBR kecuali berita tentang penjualan semen melambat. Akhirnya saya tambah lagi SMBR Agustus 2015, di 50% dari harga IPO yakni di 259, sehingga avg terakhir saya adalah 312. Dan ini adalah avg SMBR saya hingga saat ini. Setelah transaksi terakhir ini, alokasi SMBR sudah 100% di portofolio saya, dan saya tidak ada rencana untuk menambah SMBR lagi. Saya hanya bisa memantau perkembangan bisnis SMBR, apakah ada yang aneh dan bisa saya jadikan alasan untuk menjual SMBR.

Awal tahun 2016, group komunitas saham-indonesia.com terbagi menjadi 2 dengan tujuan agar lebih terfokus pembahasan strategi di bursa, yakni Fundamental dan Teknikal. Saya bergabung di group fundamental dan disini saya baru tergerak bahwa informasi kinerja perusahaan bisa tergambar jelas di dalam laporan keuangan. Dan musim LK saat itu bertepatan dengan gath pertama group. Disini saya iseng download LK SMBR dan siap2 minta diajarin cara membacanya, karena kalo berdasarkan artikel koran/internet bahwa SMBR mengalami penurunan kinerja berdasarkan laporan keuangan. Kebetulan Pak Maringan tiba-tiba berbicara tentang SMBR dan saya langsung tanya kepada dia tentang kinerja SMBR yang turun dari tahun kemarin. Disana saya mendapatkan pandangan baru bahwa membaca LK tidak saja membahas rangkuman melainkan juga memahami poin-poin penjelasannya. Disana saya menemukan bahwa penurunan kinerja SMBR bukan serta merta disebabkan oleh penjualannya yang turun drastis melainkan SMBR melakukan investasi pabrik, dimana oleh SMBR dibebankan ke dalam biaya (ya setidaknya ini yang saya tangkap dari penjelasan pak Maringan) Dan terima kasih Pak Maringan, membuat saya semakin yakin SMBR untuk saya hold hingga 2018.

Pada saat itu SMBR sedang rally dan sudah menembus 550, disinilah ujian kedua saya. Saya sudah untung 100% dan saya tidak perlu 2018 untuk mendapatkan untung 100%. Saya sudah berdiskusi dengan teman kantor, dan semuanya rata-rata menyarankan saya untuk jual atau jual sebagian. Namun perspektif berbeda disampaikan rekan di group saham-indonesia.com, salah satunya sharing dari Pak Moko yang menjual sahamnya 50% ketika sudah mendapatkan gain 100%. Dengan asumsi beliau uang modal yang digunakan untuk belanja saham tersebut sudah dia ambil, sehingga apa yang ada di dalam akunnya saat itu sudah bukan modalnya dia lagi. Akhirnya saya menjual 20% SMBR saya dan saya berjanji untuk hold sisanya hingga Rp 1000.

Saat ini SMBR saya sudah tinggal tersisa 8% saja dari jumlah lot yang saya beli di harga avg 312 dengan keuntungan 790%. Sisanya sudah saya gunakan untuk investasi di project kedua saja, ADRO dan JSMR, serta menambah lot di saham untuk pensiun saya di BBRI dan BBNI. Secara alokasi modal ADRO dan JSMR 2.5x lebih besar dari modal yang saya alokasikan di SMBR, namun saya tidak menambahkan modal dari top up melainkan hasil penjualan SMBR di beberapa kesempatan.

Jika muncul pertanyaan kenapa belum 2018 koq sahamnya sudah dijual ? Jujur saja saya taunya harga SMBR harusnya tidak lebih dari Rp 1.000 di tahun 2018. Ketika dia sudah melewati 1000 dan sebelum 2018, maka SMBR secara valuasi sudah mahal. Dan ketika saya melihat ADRO dan JSMR, saya menemukan saham yang secara pandangan saya sama seperti SMBR di bawah Rp 300

Akhirnya artikel pengalaman saya selesai juga, semoga bermanfaat.

 

Salam “Low Risk, Sure Gain”

4 thoughts on “First Investment Project – SMBR

  1. Sangat inspiratif kuh, ada rasa bahagia dan iri dr cerita anda. Saya yg mungkin lbh dulu mengenal yg namanya fundamental tidak memiliki keberanian seperti anda yg percaya dan ttp percaya dgn analisa anda, konsisten menjalaninya hingga tujuan tersebut terwujud.

    Saya bahagia bs mengenal sosok investor seperti anda sehingga bisa slalu memberi dukungan moral dan motivasi kepada kita semua.

    Saya juga iri bahwa saya belum bs seteguh seperti anda, dari iri ini akan sy jadikan motivasi utk terus maju demi mencapai tujuan dan impian saya.

    Very good article and valuable sharing, menanti article dan pengalaman berikut dr km.

    1. Pak Al, saya tersanjung sekali dengan komentar bapak di blog saya.. hehehehe Saya bisa menulis ini karena “dorongan” dari pak Al dan teman-teman lainnya..

      Saya malah iri dengan pak Alianto yang sudah memiliki kerangka penulisan analisis di web http://www.longterm-investment.com/, semoga ke depannya saya bisa juga membuat kerangka penulisan yang lebih baik lagi dari yang sekarang..

  2. Terima kasih Mas Kukuh sdh menjadi inspirasi langsung bagi saya tentang bagaimana sebuah saham bisa menjadi sangat menguntungkan dan naik berlipat-lipat harganya. Ini pelajarang sangat berharga bagi saya yg masih newbie ini

    1. Terima kasih Dokter Ahmad,

      ayo mas mulai nulis sekarang, karena ide2 investasi dari mas Ahmad sangat sayang kalo tidak di dokumentasikan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *