KBLI, Another Investment Journey

KBLI, Another Investment Journey

Kali ini saya ingin membahas sebuah saham yang cukup fenomenal (setidaknya bagi saya) di tahun 2017 ini. Saham itu adalah KBLI, PT. KMI Wire & Cable Indonesia. Mengapa fenomenal ? Karena saya sudah memiliki saham ini semenjak harga 316 dan di pertengahan April saham ini sudah bergerak ke harga tertingginya di 865, dimana sebenarnya saham ini sudah menghasilkan gain untuk saya 150% lebih dalam waktu hanya 2 bulan saja. Namun apa yang saya lakukan ? Saya tidak menjualnya, mala saya melakukan average up di saham ini. Gila ? Memang. Bodoh ? Memang. Namun ada alasannya kenapa saya melakukan ini.

Ya bisa dibilang artikel ini merupakan artikel untuk meletakkan data-data yang saya kumpulkan mengenai KBLI ke dalam sebuah halaman sehingga di kemudian hari saya bisa membuka-buka kembali alasan mengapa saya masuk saham ini. Sama seperti sebelumnya, artikel ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian untuk lebih memudahkan membacanya.

Perseroan didirikan pada tahun 1972 berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dengan mitra bisnis asing, Kabelund Metallwerke Guetehoffnungshuette AG dari Jerman dan memulai produksi kabel listrik tegangan rendah serta kabel telepon di atas lahan seluas 10 hektar di daerah Cakung, Jakarta Timur, pada tahun 1974.

Di tahun 1986, perusahaan diakusisi oleh PT. Gajah Tunggal Mulia dan hingga saat ini masih menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan. Pada tanggal 8 Juni 1992, Perseroan memperoleh  pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar  Modal (BAPEPAM) dengan suratnya No. S-945/PM/1992 untuk melakukan penawaran umum  atas 10.000.000 saham Perseroan kepada masyarakat.

Pada tanggal 6 Juli 1992, saham tersebut telah  dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 1996, perusahaan berganti nama menjadi PT. GT Kabel Indonesia sebagai bagian identitas holding dari PT Gajah Tunggal Mulia. Namun pada tahun 2008, perusahaan kembali merubah nama dan mengganti merek GT Kabel Indonesia menjadi PT. KMI Wire and Cable, Tbk, dan terhitung mulai tanggal 1 September 2008, merek luar negeri yang baru menjadi nama perusahaan PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI).

Hingga saat ini, KBLI menjadi salah satu perusahaan pemasok yang memenuhi syarat kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) serta pemasok kabel telepon yang memenuhi syarat kepada PT. Telekomunikasi Indonesia. Selain itu perusahaan juga memasok kabel untuk kebutuhan pada sektor swasta dan industri seperti minyak, gas dan pertambangan serta industri lainnya, baik secara langsung atau melalui rangkaian jaringan distributor dan resellernya.

Di artikel saya sebelumnya,mengenai Adaro Energy, saya membahas mengenai perusahaan Adro dalam kaitannya dengan proyek pembangkit listrik. Nah disini saya melewati satu hal yang cukup krusial, ketika power plant jadi bagaimana menyalurkan listrik hasil power plant tersebut, jawabannya cuman ada satu make media transmisi yakni kabel. Dan apakah prospek bisnis kabel begitu menjanjikan ? Saya akan coba bahas dari data yang saya peroleh.

Sumber RPUTL PLN 2017 – 2026

Berdasarkan dokumen RPUTL PLN yang disahkan tanggal 29 Maret 2017 kemarin, disampaikan bahwa kebutuhan jaringan transmisi listrik sebesar 67,4 ribu KMS. Dimana puncaknya ada pada tahun 2017 – 2019, dan jenis kabel transmisi yang akan dicari adalah kabel dengan spesifikasi 150kV sebesar 48,4 ribu KMS. Hal ini selaras dengan rencana PLN menganggarkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) di 2017 sebesar Rp 120 triliun yang diperuntukan untuk menambah transmisi, pembangkit dan gardu induk. Anggaran ini sediakan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, dimana berdasarkan data (https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170104/281930247654860), rasio elektrifikasi nasional saat ini mencapai 90%, namun di beberapa daerah masih rendah seperti Papua (46.67%) dan Nusa Tenggara Timur (58.34%). Sehingga pemerintah menargetkan di tahun 2019, melalui program pembangkit listrik 35.000 Megawatt rasio elektrifikasi nasional menjadi 97%.

Penambahan Pembangkit dan Transmisi (RPUTL PLN 2017-2026)

Jika kita mau membaca dokumen ini, tidak harus seluruhnya, cukup yang membuat kita tertarik kepada sektor ini saja. Maka kita akan menemukan berbagai macam pandangan-pandangan mengenai potensi-potensi yang ada di Indonesia. Ya khusus di artikel ini, saya akan fokus kepada potensi di Bagian Rencana Penyediaan Tenaga Listrik, dimana kriterianya dibagi menjadi 3 sub bagian yaitu perencanaan pembangkit, perencanaan transmisi dan perencanaan distribusi. Di bagian ini PLN menjabarkan dengan jelas strategi yang akan mereka lakukan untuk menyediakan akses listrik bagi wilayah yang belum terjangkau listrik, wilayah yang mengalami pertumbuhan beban listrik dan wilayah yang mengalami kekurangan pasokan listrik. Jika membahas prospek bisnis kabel, perencanaan transmisi memberikan “contekan” kepada kita. Dimana untuk wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan selain dilakukan penambahan kapasitas dilakukan juga penguatan jalur transmisi. Hal ini identik dengan pembangunan jalur transmisi baru dan peningkatan kualitas jaringan kabel transmisi, sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi penjualan dari perusahaan kabel di Indonesia.

Saat ini proses pembangunan infrastruktur sebagian besar masih berfokus kepada pembangunan pembangkit listrik, sedangkan untuk jalur transmisi dari pembangkit listrik ke gardu induk dan distribusi dari gardu induk kepada pelanggan belum semuanya bisa diekskusi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang menghambat, seperti yang diutarakan pada dokumen RPUTL 2017-2026, bahwa pembangunan SUTET dan SUTT sering terlambat karena masalah perizinan, ROW dan sosial. Sehingga bila dilakukan pembangunan SUTET dengan menggunakan rute baru akan memerlukan waktu yang lebih lama, namun PLN memiliki backup plan, yakni dengan meningkatkan kapasitas jalur transmisi yang sudah ada dengan melakukan kegiatan Rekonduktoring. Faktor hambatan ini sudah masuk ke dalam Pemetaan Profil Resiko di dalam RPUTL 2017-2026, dimana hambatan ini memberikan dampak yang signifikan bagi penyelesaian proyek hingga tahun 2019 yakni 19 GW.

Pemetaan Profil Resiko Jangka Panjang 2016-2025
(RPUTL 2017 – 2026)

Jika ingin memahami lebih lengkap dan detail mengenai prospek kabel silahkan baca RPUTL PLN ya. 

Key Point pada bagian ini adalah RPUTL PLN 2017-2026, Pembangunan Infrastruktur  Tenaga Listrik oleh PLN, Rekonduktoring. 


Beberapa perusahaan kabel yang listing di bursa antara lain PT. Voksel Electric (VOKS), PT. Jembo Cable Company (JECC), PT. Kabelindo Murni (KBLM), PT. Supreme Cable  Manufacturing & Commerce (SCCO) dan PT. KMI Wire & Cable (KBLI), saya memilih 1 perusahaan saja yakni KBLI.  Alasan simplenya adalah saya sudah ada posisi dan sudah mendapatkan pengalaman baru di KBLI.  😛

Namun sebenarnya itu adalah alasan yang muncul dari aktifitas market. Alasan sebenarnya saya memilih KBLI dibandingkan dengan perusahaan lainnya adalah dari cerita yang disampaikan oleh KBLI melalui tiap annual report-nya dengan menarik dan menurut saya cukup jelas dibaca. Mungkin ada yang berpendapat hal ini juga subjektif dong, mengingat mungkin saja saya hanya membaca AR KBLI saja. Ya mungkin saja pendapat itu benar, namun mari kita coba bahas detail mengenai KBLI supaya kita semakin kenal dengan perusahaan ini.

Yang paling utama dalam melihat saham, kita harus melihat bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan, Bagaimana kinerja perusahaan, dan Apa saja resiko yang diterima oleh KBLI. Sebenarnya semua ini ada di dalam Annual Report KBLI, namun tulisan ini saya buat untuk catatan pribadi saya dengan mengumpulkan beberapa sumber data yang berhasil saya kumpulkan.

Bagaimana Perusahaan menghasilkan Laba ?
Sesuai dengan nama perusahaannya, KBLI melakukan proses manufakturing dan penjualan kabel ke sektor pemerintah dan swasta. KBLI memiliki beberapa produk antara lain Kabel Listrik Tegangan Rendah, Kabel Listrik Tegangan Menengah, dan Kabel Listrik Tegangan Tinggi.  Berhubung saya kurang paham mengenai kabel-kabel, saya comot langsung saja dari AR.

Kabel Listrik Tegangan Rendah
Perseroan memproduksi kabel listrik tegangan rendah dengan tegangan kerja sampai dengan 1 kV. Kabel listrik tegangan rendah ini terutama menggunakan bahan isolasi PVC (Polyvinylchloride) atau XLPE (Crosslinked Polyethylene), EPR (Ethylene Propylene Rubber) dengan penghantar kawat tembaga atau aluminium. Kabel jenis ini banyak digunakan pada jaringan pemasok listrik tegangan rendah serta instalasi listrik di industri dan gedung – gedung.

Low Voltage Cable (Pubex 2017)

Kabel Listrik Tegangan Menengah
Perseroan memproduksi kabel listrik tegangan menengah  dengan tegangan kerja diatas 1 kV sampai dengan 36 kV.  Kabel listrik tegangan menengah ini terutama menggunakan  bahan isolasi XLPE dengan penghantar kawat tembaga atau  aluminium. Kabel jenis ini banyak digunakan pada jaringan  distribusi tenaga listrik tegangan menengah bawah tanah  dan bawah laut yang menghubungkan gardu listrik dengan  konsumen industri atau komplek perumahan.

Medium Voltage Cable (Pubex 2017)

Kabel Listrik Tegangan Tinggi
Perseroan memproduksi kabel listrik tegangan tinggi di atas  36kv sampai dengan 150kv. Kabel listrik tegangan tinggi menggunakan bahan baku isolasi XLPE khusus dengan  penghantar kawat tembaga dan alumunium sampai dengan  2000 mm2. Kabel tegangan tinggi ini digunakan untuk  jaringan transmisi bawah tanah yang menghubungkan  antara gardu induk.

High Voltage Cable (Pubex 2017)

Khusus untuk kabel listrik tegangan tinggi, perusahaan telah melakukan investasi pabrik untuk produk ini dan sudah berhasil melakukan produksi dan penjualan baik untuk pasar luar negeri dan PLN untuk pelanggan dalam negeri. Produk kabel ini sudah memiliki sertifikasi dan akan digunakan di dalam proyek PLN untuk High Voltage Underground Cable (HVUGC).

Investasi Kabel Tegangan Tinggi (Annual Report 2016)

Jenis kabel lainnya yang saya hingga sekarang masih bingung pengelompokannya masuk ke dalam produk mana adalah kabel ACCC dan ACSR, apakah mereka masuk ke dalam kabel tegangan tinggi, menengah atau jangan-jangan masuk ke dalam kabel tegangan rendah. Berdasarkan data yang saya kumpulkan, kabel ACSR dan kabel ACCC merupakan jenis kabel yang digunakan untuk transmisi listrik melalui saluran udara SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) dan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Perbedaan antara kabel ACSR dengan ACCC adalah di kualitasnya, dimana ACCC memiliki kemampuan dua kali lipat lebih baik jika dibandingkan dengan ACSR dalam melakukan transmisi daya listrik.

Perbedaan kabel ACSR dan ACCC

Bagaimana Kinerja Perusahaan ?

Berdasarkan hasil kinerja tahun 2016 tercatat bahwa penjualan Kabel Listrik Tegangan Rendah sebesar Rp 2.074,8 milyar (73,8%), Kabel Listrik Tegangan Menengah sebesar Rp 592,8 milyar (21,1%), Kabel Listrik Tegangan Tinggi sebesar Rp 69,0 milyar (2,5%) dan sisanya dari produk lainnya sebesar Rp 75,6 milyar (2,6%).

Ada yang menarik di dalam margin penjualan KBLI di dalam penyampaian LK Q1 2017, dimana jika kita perhatikan margin penjualan QoQ pada produk Kabel Listrik Tegangan Tinggi meningkat drastis dan sangat besar sekali margin keuntungannya. Saya coba mencari informasi seputar kabel tegangan tinggi ini dan saya menemukan yang menarik di dalam Annual Report KBLI. Detailnya saya akan bahas di bagian prospek usaha.

Beban Biaya Produksi

Di dalam membuat produk kabel yang akan dipasarkan kepada pelanggan, KBLI tentu akan menanggung biaya produksi. Berdasarkan materi Publication Expose tahun 2017, beban operasional KBLI terdiri dari beberapa komponen antara lain Beban Pekerja, Beban Energy, Depresiasi, Bahan Baku dan lain – lain. Jika kita memperhatikan dalam bentuk grafik, akan tampak bahwa 88% beban ada pada Bahan Baku.

Bahan baku yang paling banyak digunakan oleh KBLI adalah alumunium dan tembaga, dimana kedua komoditas ini diperdagangkan dengan menggunakan acuan harga internasional (LME Price) sangat berfluktuatif tergantung kepada permintaan dan  penawaran. Hal ini menyebabkan perusahaan memasukan bahan baku ke dalam manajemen resiko keuangan, salah satu strategi untuk melakukan ini dengan melakukan lindung nilai atas harga pembelian bahan baku utama perusahaan. Selain melakukan lindung nilai, perusahaan juga mencari alternatif pemasok bahan baku alternatif yang mampu memberikan jaminan pasokan bahan baku kepada perusahaan.

Dampak dari fluktuatifnya harga bahan baku ini tentunya akan menggerus margin keuntungan perusahaan, dimana pelanggan terbesar KBLI adalah PLN yang melakukan kontrak harga pembelian barang. Sehingga ada potensi KBLI mengalami kerugian atas harga jual barang dengan harga beli bahan baku. Sedangkan untuk pelanggan non-PLN atau sektor swasta kenaikan harga bahan baku dapat langsung di teruskan kepada pembeli, sehingga harga akan mengikuti berdasarkan waktu transaksi.

Apa Saja Resiko yang ditanggung oleh Perusahaan ?

Resiko yang yang paling nampak saat ini bersumber dari proyek 35.000 MW, dimana merupakan proyek yang diinisiasi oleh pemerintah dan bekerja sama dengan swasta di dalam menyediakan listrik bagi Indonesia. Resiko-resiko yang berpotensi muncul sebenarnya sudah ada di dalam pemetaan profil resiko di RPUTL PLN 2017-2025, hal ini disebabkan lebih dari 40% pelanggan KBLI adalah PLN sehingga resiko seperti perubahan kebijakan pemerintah, pembebasan lahan, kurangnya biaya pembangunan infrastruktur hingga pergantian kepemimpinan menjadi resiko yang harus diperhatikan apabila memilih KBLI sebagai anggota portofolio saham kita.

Key Point pada bagian ini adalah Bagaimana memahami bisnis perusahaan, beban produksinya dan resiko yang dihadapi oleh perusahaan. 

Di dalam artikel tentang ADRO, saya menekankan bahwa memahami fundamental perusahaan adalah yang terpenting. Karena dengan kita memahami fundamental perusahaan, kita dapat menggali lebih banyak informasi mengenai perusahaan dan prospek perusahaannya. Lalu bagaimana dengan KBLI ? Pada tab sebelumnya saya melampirkan hasil summary RPUTL PLN tahun 2017 – 2026, dimana kebutuhan kabel hingga tahun 2026 nanti adalah sebanyak 67.400.000 kms. Dari total kebutuhan kabel yang disampaikan, sebanyak 48.400.000 kms akan diisi oleh kabel dengan ukuran 150 kv.

Ketika kita akan memilih perusahaan, saya lebih senang berkenalan dahulu dengan fundamental perusahaannya, karena dengan kita memahami fundamental perusahaan, kita dapat menggali lebih banyak informasi mengenai perusahaan dan prospek perusahaannya. Salah satu cara paling mudah untuk berkenalan adalah membaca annual report atau publication expose yang dibagikan kepada seluruh investor. Di sana kita akan mengetahui strategi perusahaan di tahun sebelum dan ditahun yang akan datang. Berikut ini adalah strategi KBLI yang dipaparkan di dalam acara Pubex 2017.

Strategi Perusahaan (Pubex 2017)

Jika saya melihat strategi perusahaan yang dijalankan oleh KBLI, bisa dikatakan saya menyimpulkan bahwa KBLI menjalankan strategi untuk mempertahankan serta meningkatkan penjualan perusahaannya dan menjaga beban operasional produksinya sehingga lebih efisien.

Strategi mempertahankan dan meningkatkan penjualan dilakukan oleh KBLI dengan program “One Stop Service” dimana KBLI ingin memberikan layanan yang terbaik bagi seluruh pelanggannya, salah satu bentuk layanan terbaik yang diberikan oleh perusahaan adalah perusahaan terus berinovasi di dalam menyediakan solusi-solusi yang dibutuhkan oleh pelanggan. Inovasi di dalam produk KBLI, ada pada produk kabel konduktornya ACCC. KBLI merupakan satu-satunya perusahaan yang memiliki lisensi di dalam memproduksi kabel ACCC. Sertifikasi kabel ACCC ini dikeluarkan oleh CTC Cable dari Amerika. Untuk memasarkan kabel ini, KBLI terus melakukan sosialisasi kepada pelanggannya mengenai kabel ACCC. Untuk tetap mempertahankan bisnis di Indonesia, KBLI juga mempertahankan ratio TKDN di angka 87% bagi setiap produknya sehingga dapat bersaing di pasar Indonesia yang mensyaratkan TKDN sebesar 57%. Persyaratan TKDN ini merupakan keharusan bagi perusahaan kabel yang ingin mengerjakan proyek di Indonesia.

Strategi untuk menekan biaya produksi juga dijalani oleh KBLI, dimana KBLI mencari alternatif-alternatif pemasok bahan baku yang kompetitif dan mampu memasok kebutuhan bahan baku untuk produksi. Khusus untuk pemasok bahan baku Tembaga, KBLI mencari pemasok selain dari PT. Smelting Indonesia hal ini dikarenakan pasokan dari PT Smelting terganggu. Selain memiliki strategi di bahan baku, perusahaan juga secara rutin melakukan peremajaan mesin-mesin produksi sehingga tetap mampu berproduksi dengan efektif dan efisien. Di tahun 2017 ini, perusahaan juga berencana untuk membangun pabrik baru di kawasan MM 2100 yang dimana sumber pendanaanya 20% menggunakan kas internal dan 80% menggunaan pembiayaan Bank. Dengan alokasi ini, KBLI juga selektif di dalam pemilihan bank kreditur sehingga tidak membebani beban keuangan perusahaan.

Di dalam Annual Report tahun 2016, manajemen KBLI  optimisme bahwa kinerja tahun 2017 akan semakin baik jika dibandingkan dengan dengan tahun 2016. Pada tahun 2016, penjualan produk kepada PLN mengalami peningkatan yang sangat signifiakn yakni sebesar 83,1% jika dibandingkan tahun 2016. Pada tahun 2016, kemarin penjualan kabel listrik bersumber dari penjualan kepada PLN sebesar Rp 1.123,6 (40,0%), sektor swasta sebesar Rp 1.645,2 milyar (58,5%), dan ekspor sebesar Rp 43,4 milyar (1,5%). Ada hal yang menarik jika kita perhatikan penjualan ini, yakni sebesar 40% dari penjualan di jual ke dalam satu perusahaan yakni Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pada tahun 2015 perusahaan berhasil menjual produknya kepada PLN sebesar Rp. 613,5 milyar atau 23 % dari penjualan Perseroan, sedangkan di tahun 2016, perusahaan berhasil menjual Rp. 1,12 triliun atau 40,5 % dimana meningkat hingga 83,1% jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2015.

Penjualan kepada PLN juga menjadi katalis postif sendiri bagi seluruh perusahaan kabel, dimana PLN memiliki metode pengadaan yang mempercepat proses proyek PLN. Metode pengadaan PLN, salah satunya adalah menggunakan DPT (Daftar Penyedia Terseleksi) yang secara berkala dilakukan seleksi oleh PLN. Dengan adanya DPT ini  proses pemilihan Penyedia yg berkualitas sesuai dengan yang dibutuhkan dan fleksibel dalam memenuhi kebutuhan proyek.

Daftar Penyedia Terseleksi PLN (Web PLN)

Sedangkan untuk material berbentuk kabel, PLN menerapkan jatah kuota kepada perusahaan penyedia kabel hal ini untuk melindungi PLN dari ketidakmampuan perusahaan memasok kebutuhan kabel. Berdasarkan hasil Pubex KBLI tahun 2017, manajemen mengklaim sudah memegang kuota pengadaan untuk 7.3 juta meter kabel.

Jumlah pesanan kabel KMI (Pertanyaan Pubex 2017)

Di dalam AR 2016 ini juga, perusahaan mengklaim bahwa sudah memegang 5 buah proyek transmisi bawah tanah untuk kabel listrik tegangan tinggi (High Voltage Under Ground Cable) yang harus diselesaikan hingga akhir tahun 2017.

Prospek Usaha KBLI (Annual Report KBLI 2016)

Kebutuhan pasar di dalam penyediaan pasokan kabel yang dibutuhkan oleh para pelanggannya terutama PLN, menjadi tantangan tersendiri bagi KBLI. Untuk itu di tahun 2017 ini perusahaan berencana meningkatkan jumlah produksi kabel alumunium sebanyak 15.000 ton. Peningkatan kapasitas ini menjadi sesuatu hal yang menarik, karena perusahaan berusaha memanfaatkan momen pembangunan infrastruktur kelistrikan Indonesia. Jika kita melihat pada gambar penambahan transmisi dan gardu induk dalam RPUTL PLN, kebutuhan akan kabel tidak akan terserap semuanya oleh produsen kabel jika tetap mempertahankan kapasitas produksi saat ini, untuk itulah KBLI memberikan komitmen untuk dapat menyerap kebutuhan kabel. Pembangunan pabrik ini mengandalkan internal kas perusahaan sebesar 20% dan pinjaman bank 80%. Penggunaan internal kas perusahaan kemungkinan bersumber dari laba yang dimanfaatkan oleh perusahaan untuk ekspansi dibandingkan dibagi-bagi untuk menjadi deviden.

Strategi pemenuhan kebutuhan PLN

Key Poin : Bagaimana strategi perusahaan dalam memanfaatkan momentum Proyek 35.000 MW. 

5 thoughts on “KBLI, Another Investment Journey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *