Everyday is a Second Chance

Everyday is a Second Chance

Setiap hari selalu ada kesempatan baru bagi kita semua untuk meraih apa yang hari sebelumnya belum bisa kita raih. Kesalahan di hari kemarin harus dapat kita perbaiki dihari-hari selanjutnya. Dan apa yang menjadi kegagalan dihari sebelumnya harus bisa kita raih keberhasilannya di keesokan harinya.
Ok, abaikan saja reminder diatas. Dan kali ini saya akan coba memindahkan catatan-catatan kecil saya ke dalam bentuk tulisan blog, ya siapa tau bisa membantu pembaca (kalo ada sih) memahami emiten-emiten BUMN Konstruksi. So Project 2018 saya adalah Saham Konstruksi BUMN. Beberapa alasan mengapa saya ingin menjadikan Saham BUMN adalah sebagai berikut
  1. Program Pembangunan Infrastruktur di Indonesia.
  2. Konstruksi merupakan saham incaran saya semenjak 2014.
  3. 4 Perusahaan BUMN Konstruksi melantai di IHSG.
  4. Dan saya bisa beli mereka diharga “MURAH”.

Sumber data yang saya gunakan seluruhnya untuk artikel ini bersumber dari Stockbit.com, namun ke depannya saya akan coba menggunakan data hasil kompilasi sendiri.

Pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia merupakan suatu program yang dibawa oleh Presiden Jokowi di periode beliau saat ini. Dimana dari awal kampanye, kata kunci “Pemerataan” selalu menjadi pegangan beliau di dalam menjelaskan kondisi Indonesia akan pembangunan infrastruktur. Pada saat itu market langsung bereuforia terhadap perusahaan konstruksi terutama pada keempat perusahaan BUMN konstruksi yakni, Adhi Karya (ADHI), PP (PTPP), Wijaya Karya (WIKA) dan Waskita Karya (WSKT). Market berasumsi bahwa emiten konstruksi mendapatkan limpahan project pembangunan infrstruktur, akibat ini harga 4 perusahaan BUMN berjalan naik dan saya hanya bisa menjadi pelaku swing trading saja. Alasan sederhana mengapa saya tidak buy and hold, adalah harga saham-saham tersebut diatas valuasi atau overvalue.

PE Ratio 5 Tahun

Ya walaupun saya belum bisa ngitung fair value secara detail, namun dengan rata-rata PER diatas 15x dan satu yang paling mahal adalah WIKA dengan PER TTM di tanggal 31 Maret 2014 adalah 25x. Dan pesta belum berakhir, hingga awal tahun 2015, WSKT memiliki PER sebesar 45x !!!!. Dulu obrolan di lingakaran saya bilang, wajar saja mereka dihargai sebegitu mahal, karena project selalu mereka dapatkan sedangkan dari sisi kinerja baru bisa di akui setelah pekerjaan selesai dan tercatat di dalam LK.

Singkat kata, pada tahun 2015 valuasi emiten konstruksi BUMN menjadi sangat mahal dikarenakan harga saham naik tinggi, sedangkan EPSnya belum naik tinggi. Pada titik ini saya udah mulai was-was sehingga memutuskan untuk mencari saham lainnya dan menemukan Project 2015 saya, yaitu ADRO. Kembali ke project tahun ini, emiten BUMN Konstruksi menarik perhatian saya dikarenakan sudah murahnya valuasi emiten konstruksi BUMN ini.

Last PE

Nah apakah valuasi murah ini memang benar murah atau jangan-jangan murahan, artinya saham konstruksi mencatatkan kinerja semakin baik atau malah kinerjanya buruk. Di beberapa forum yang saya ikuti hampir sebagian besar penjelasan mengenai saham-saham konstruksi BUMN seputar peningkatan kinerja, cash flownya yang buruk, ratio utangnya yang buruk dan hingga asumsi jika muncul potensi gagal bayar terhadap emiten-emiten BUMN Konstruksi. Jika dirangkum singkat, ya tentunya akan ada perdebatan baik, buruk dan netral berdasarkan sudut pandang masing-masing.

Dan saya coba menuangkan catatan saya ke dalam artikel ini, ini sudut pandang dari saya dengan keterbatasan informasi yang hanya bersumber dari Laporan Keuangan masing-masing emiten. Semoga catatan saya ini bisa menjawab hipotesa tersebut. Saya mencoba membagi menjadi beberapa poin, yang menurut saya penting untuk kita perhatikan. Poin-poin tersebut antara lain
  • Pertumbuhan / Peningkatan Kinerja.

    Pada poin ini kita akan membahas mengenai pencapaian kinerja dari masing-masing emiten, dimana pencapaian kinerja ini merupakan hal terpenting di dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Saya biasa menggunakan 3 subpoin dibawah untuk membandingkan kinerja emiten dari masing-masing kuartal. Karena pada dasarnya perusahaan konstruksi mengandalkan pendapatan dari proyek-proyek yang dikerjakan dari waktu ke waktu.

    • Pendapatan

      Jumlah uang yang dihasilkan perusahaan dari pelanggan untuk produk atau jasa yang dijualnya selama periode tertentu dikurangi retur dan potongan penjualan atau diskon penjualan. [Stockbit-Glossary]. Pada bagian awal laporan keuangan untuk “Pencatatan Pendapatan”, selalu diawali dengan Pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan di dalam suatu periode.

      Pendapatan per kuartalPertumbuhan Pendapatan Perkuartal Years on Years

    • Pendapatan Operasional

      Penghasilan yang diperoleh dari operasi bisnis perusahaan sehari-hari. Laba ini diperoleh dari selisih laba kotor dan total beban usaha. [Stockbit-Glossary]. Perusahaan dapat dikatakan berhasil mengoptimalkan bisnisnya apabila pendapatan operasionalnya tumbuh dari tahun ke tahun. Pos pendapatan operasional menggambarkan laba yang diperoleh dari bisnis inti perusahaan.

      Pendapatan Operasional

      Berdasarkan data yang ada diatas, WSKT membukukan pendapatan kuartal paling besar diantara 3 BUMN lainnya. Namun jika diperhatikan bentuk garis yang tergambar, nampak ada penurunan signifikan bila dibandingkan dengan Q4 2017. Hal ini wajar mengingat banyaknya pembayaran atau penyelesaian project di akhir tahun. Untuk itu, kita perlu melihat lebih detail dari pertumbuhannya.

      Pertumbuhan Pendapatan Operasional Years on Years

      Ketika kita melihat angka di dalam pendapatan operasional, kita juga harus melihat kira-kira margin yang diperoleh oleh perusahaan apakah sebesar dengan pertumbuhan pendapatan operasionalnya ?

      Operation Profit Margin
    • Pendapatan Bersih.Thanks for Stockbit, saya langsung copas aja ya. Laba bersih yang dihasilkan perusahaan dari pendapatan dikurangi semua beban, baik beban pokok penjualan, beban usaha, beban bunga, pajak dan beban lainnya. Net Income (laba bersih) mengukur keuntungan bersih perusahaan. Umumnya perusahaan membagi laba bersih menjadi dua bagian yaitu laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-pengendali. Semakin tinggi nilai laba bersih semakin baik perusahaan. Laba bersih ini digunakan untuk menghitung earnings per share (laba per saham). Kalimat penutup dibagian penjelasan sebagai pengambilan kesimpulan pada poin ini. Jadi siapakah ?
      Pendapatan Bersih
      Pertumbuhan Pendapatan Bersih

      Dari 2 grafik diatas, pendapatan bersih Waskita Karya melonjak sangat signifikan dan pertumbuhan secara tahun ke tahun WSKT mencatatkan pertumbuhan sebesar 273%.Dari 3 subpoin diatas,dapat kita ambil kesimpulan bahwa Waskita mencatatkan kinerja yang terus tumbuh dari tahun ke tahunnya.  Secara margin, WSKT diatas dari rata-rata emiten BUMN lainnya, dimana yang lainnya hanya mencatatkan angka dibawah 10% , dibandingkan dengan Waskita Karya yang berhasil mencatat 21.66%. Sedangkan secara pendapatan bersih Q1 2018 secara tahunan, Waskita mendapatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan sebesar 273%.

  • Cash Flow Perusahaan

    Mengutip pada artikel saya sebelumnya mengenai “Membaca Laporan Keuangan”, suatu perusahaan sehat pasti memiliki alur kas yang baik. Namun analogi bejana yang ada di dalam artikel tersebut harus di telaah kembali, terutama ketika kita membahas mengenai sektor konstruksi. Mengapa demikian? Karena sektor ini pada umumnya mendapatkan project dalam bentuk turnkey project, dimana ketika project tersebut selesai maka pembayaran baru diselesaikan oleh pelanggan. Hal ini yang menyebabkan arus kas operasional emiten BUMN cenderung minus, karena harus menalangi terlebih dahulu biaya yang muncul selama proses pengerjaan. Pada bagian ini saya memfokuskan kepada 2 arus kas yakni

    • Cash Flow from Financing.

      Alur kas yang bersumber dari aktivitas pendanaan seperti penerbitan obligasi, pinjaman bank dan non-bank.  Alur kas ini menggambarkan kondisi perusahaan di dalam menjalankan bisnisnya apakah mengandalkan dana eksternal atau dana internal yang telah dialokasikan. Semakin besar pendanaan yang diterima perusahaan, maka semakin besar juga beban keuangan yang harus di bayarkan oleh perusahaan. Semakin besar beban yang dibayarkan maka akan memotong pendapatan yang diterima oleh perusahaan.

      Cash From Financing

      Berdasarkan data diatas, WSKT nampaknya besar sekali pendanaanya. Dan kalo sekilas kita lihat 4x lebih besar dibandingkan dengan emiten BUMN lainnya. Hasil pengecekan ke dalam laporan keuangan dari WSKT, WIKA dan PTPP (belum sempat check ADHI), dan bila menggunakan konsep TTM (Trailing Twelve Months) maka WSKT memiliki dana dari pinjaman atau pendanaan lebih besar dibandingkan dengan emiten BUMN lainnya.

    • Operational Cash Flow.

      Berbeda dengan alur kas yang bersumber dari pendanaan, alur kas operasional merupakan alur kas yang muncul akibat adanya pembayaran dari pelanggan dan pembayaran kepada pemasok di dalam menjalankan bisnis sehari-hari. Apabila alur kas positif, maka perusahaan masi leluasa di dalam melakukan operasional dan ekspansi bisnistanpa harus menambahkan modal dari pendanaan (pinjaman atau obligasi). Begitu juga sebaliknya, apabila alur kas operasional minus atau negatif, maka perusahaan membutuhkan sumber dana baru untuk menalangi terlebih dahulu kegiatan operasional bisnisnya.

      Operational Cash Flow

      Jika mengacu kepada grafik diatas, maka ADHI nampaknya menarik sekali karena hanya ADHI saja yang berhasil membukukan OCF yang positif. Hal ini disebabkan oleh pembayaran proyek yang dilakukan pelanggan ADHI pada semester 1 2018 ini. Dan baik WIKA dan PTPP pada Q4 2017, ketika ADHI dan WSKT minus, mereka ada positif.Secara keseluruhan arus kas pada Q1 2018, terbaik dipegang oleh ADHI, selain pendanaan yang ditanggung oleh ADHI relatif kecil, arus kas operasionalnya tercatat positif. Sedangkan WSKT mencatatakan pendanaan terbesar dan operasional cash flow yang minus. Wajar saja banyak yang mengkhawatirkan arus keuangan WSKT di dalam menjalankan bisnis. Sebenarnya WIKA kurang lebih sama dengan WSKT, walaupun tidak memiliki pendanaan sebesar  WSKT, WIKA nampaknya tidak bisa menjaga arus kas operasionalnya sehingga mengalami -2.8T di Q1 2018 ini.

  • Ratio Utang

    Mengapa saya membahas ini di dalam satu poin besar sendiri ? Karena saat ini banyak yang mengkhwatirkan mengenai kondisi keuangan dari emiten BUMN dan mempertanyakan kemampuan mereka di dalam menyelesaikan project sebelumnya dan mengakusisi project baru untuk sumber pendapatan mereka dimasa yang akan datang. Jika sebelumnya dibahas diatas mengenai arus kas, dan memang benar emiten BUMN Konstruksi rata-rata kewalahan di dalam menjalankan bisnisnya. Pada poin kali ini, kita coba mengukur kemampuan perusahaan di dalam mengelola hutangnya. Biasanya saya memperhatikan satu ratio saja di dalam melihat ratio utang perusahaan, namun hasil menjadi silent reader di salah satu group membuka wawasan baru mengenai ratio utang yang mungkin lebih efektif.

    • Debt / Equity Ratio

      Ratio ini adalah ratio yang paling saya perhatikan ketika mengamati utang suatu perusahaan, karena ratio ini menyajikan informasi sejauh mana ekuitas perusahaan bisa memenuhi kewajibannya di dalam pembayaran utang perusahaannya. Semakin tinggi rationya, maka semakin tinggi pula resiko perusahaan tersebut apabila tidak dapat melunasi kewajibannya.

      DEBT EQUITY RATIO

      Secara data DER terbesar dipegang oleh WSKT dan terendah adalah WIKA. Secara bisnis keputusan manajemen WSKT lebih banyak mengambil proyek turnkey (proyek selesai baru dibayar) ketimbang jenis proyek lainnya langsung berdampak kepada kebutuhan perusahaan akan pendanaan yang lebih besar dibandingkan perusahaan konstruksi lainnya. Nah bila kita menggunakan definisi ratio dari Debt vs Equity, tentu kita akan melihat resiko terbesar ada di WSKT dan terendah ada di WIKA. Namun di dalam memahami hutang, besar hutang tidak menjadi masalah asalkan memiliki kemampuan di dalam membayarkan hutang. Untuk itu ratio di dalam manajemen hutang saya tambahkan Interest Coverage Ratio dibawah ini.

    • Interest Coverage Ratio

      Poin ini menjelaskan mengenai kemampuan perusahaan dalam mengandalkan EBIT (Pendapatan sebelum pajak dan bunga) di dalam membayarkan utangnya. Detailnya bisa dilihat disini https://www.investopedia.com/terms/i/interestcoverageratio.asp

      dan https://www.investopedia.com/ask/answers/121814/what-good-interest-coverage-ratio.asp.

      Interest Coverage Ratio

      Berdasarkan data ini, tingkat kemampuan perusahaan BUMN Konstruksi di dalam membayar hutangnya cukup aman. Mengapa demikian karena ICR yang ada saat ini masih dalam tahap bisa diterima oleh para investor. Karena apabila perusahaan memiliki ICR 3, misalnya, maka hanya 30% dari pendanaan yang akan digunakan untuk membayarkan pinjaman yang dimiliki. Sedangkan bila perusahaan memiliki ICR 2 atau kurang, maka 50% lebih pendapatan akan digunakan untuk membayarkan pinjaman.Jika kita perhatikan data ini, dimana sebelumnya melihat cash flow emiten BUMN Konstruksi yang bisa dibilang kurang baik, maka ke khawatiran bahwa perusahaan tidak dapat atau kesulitan melunasi hutang-hutangnya bisa dibilang potensinya kecil. Namun Bima Setiaji, teman diskusi saya, mengatakan bahwa akan lebih ideal apabila ICRnya besar namun OCFnya positif, dimana artinya perusahaan tidak hanya mencatatkan pendapatannya saja melainkan juga benar-benar mendapatkan duit dari pekerjaan dan itu ditunjukan oleh pos “Penerimaan dari Pelanggan” > daripada bebannya.

  • Valuasi Emiten.

    Biasaya saya secara singkat membahas valuasi suatu emiten cukup dengan melihat PBV dan PER dari emiten tersebut. Namun mari kita bahas terdahulu dari 2 indikator valuasi ini

    • Price per Earning Ratio (PER)

      Nilai dari indikator ini akan selalu bergerak karena di dalam PER ada komponen harga saham yang selalu bergerak harian. PER merupakan alat untuk mengukur valuasi saham dimana rasio ini menunjukkan berapa kali laba bersih per saham emiten dihargai oleh pasar. Hal yang menarik dari PER ini adalah semakin kecil PER semakin menarik saham ini untuk kita beli. Mengapa demikian, karena apabila semakin tinggi laba bersih yang dihasilkan oleh emiten dan nilai saham semakin menurun maka PER yang ditunjukan akan semakin kecil. Mari kita lihat perbandingan 4 BUMN Konstruksi

      PER Ration dalam 5 tahun terakhir. [Sori ngabisin bandwidth 😀 ]

      Seperti yang saya jelaskan diatas, alasan saya membahas emiten Konstruksi BUMN karena semakin menariknya saham di sektor ini, dan bisa dibilang alasan saya tidak masuk di tahun 2014 dan 2015 karena memang saham di sektor ini kurang menarik untuk jangka panjang, PER paling murah 20 yakni milik ADHI. Kalo sekarang ? WSKT ditahun 2015 PERnya adalah 45 dan sekarang PERnya ada di 5, menurut saya ini adalah diskon. Ok bagaimana dengan indikator lainnya ?

    • Price per Book Value (PBV).

      Sama seperti PER, nilai indikator ini akan selalu bergerak mengikuti harga sahamnya. PBV merupakan perbandingan harga saham suatu perusahaan dengan nilai buku perusahaan tersebut. Semakin rendah nilai PBV yang dimiliki emiten ini, maka semakin murah juga kita membelinya. Apabila mencari emiten mana yang sedang under value, yang harus kita lakukan adalah membandingkan history dari PBV emiten tersebut selama beberapa tahun terakhir atau membandingkan dengan perusahaan sejenis.

      PBV ADHI
      PBV WSKT
      PBV WIKA
      PBV PTPP

      Gambar-gambar diatas merupakan history dari pergerakan PBV berdasarkan Standard Deviation untuk data selama 5 tahun terakhir, dan seperti yang terlihat pada gambar semua perusahaan berada di dalam area PBV -1 dan PBV -2. Apa itu -1 dan -2, saya langsung contek definisi Stockbit saja, -1 PBV Standard Deviation : nilai tengah dikurang satu kali standard deviation PBV suatu saham dalam waktu satu tahun.  Secara umum, harga suatu saham yang berada di -1 PBV Standard Deviation (1 Year) nya termasuk murah atau undervalued. Lalu untuk -2 PBV Standard Deviation : nilai tengah dikurang dua kali standard deviation PBV suatu saham dalam waktu satu tahun. Secara umum, harga suatu saham yang berada di -2 PBV Standard Deviation (1 Year) nya termasuk sangat murah atau strong undervalued.

    • Enterprise Value.Salah satu indikator untuk mengukur valuasi suatu emiten dengan lebih lengkap adalah menggunakan perbandingan antara Enterprise Value dengan Harga saham. Enterprise Value sendiri merupakan suatu indikator yang dapat digunakan untuk menilai berapa harga yang pantas untuk melakukan akusisi. Enterprise Value sendiri berbeda dengan kapitalisasi pasar sederhana dalam beberapa hal, indikator ini lebih akurat karena di dalam melakukan penilaian valuasi perusahaan mengikut sertakan hutang di dalam proses perhitungannya.

      Enterprise Value = Market cap + Total Debt – Cash + Minority Interest

      Ratio Enterprise Value dengan PBV

      Berdasarkan data diatas, maka WSKT memiliki nilai enterprise paling tinggi berdasarkan penilaian pasar. Dan WIKA memiliki nilai yang paling rendah berdasarkan penilaian pasar.

Berdasarkan data-data diatas yang saya gunakan untuk menjawab hipotesa diatas, bahwa secara kinerja seluruh perusahaan konstruksi BUMN masuk ke dalam area murah karena kinerjanya yang meningkat dan harga sahamnya semakin turun. Jadi bukan karena menurunnya kinerja perusahaan. Lalu kira-kira perusahaan mana yang menarik ? Nah disini berdasarkan data-data yang ada saya memilih WSKT dan PTPP dibandingkan dengan ADHI dan WIKA.

Mengapa demikian ? Secara Enterprise Value WIKA memiliki harga yang paling murah, namun secara kinerja WIKA tidak memuaskan (Net Income Growth Quaterly YoY turun 30%), sedangkan WSKT dan PTPP mencatat kinerja yang positif. Salah satu beban yang menjadi permasalahan terhadap WSKT adalah beban hutangnya yang semakin besar ditambah lagi operasional cash flownya yang negatif. Namun secara kemampuan dalam melunasi hutang-hutangnya paling tinggi jika dibandingkan dengan emiten lainnya.

Demikian tulisan ini saya tulis, berdasarkan data-data yang tersaji di dalam fitur Stockbit Pro  dan pemahaman saya sedikit di dalam membaca laporan keuangan tiap emiten. Apabila ada masukan dan saran silahkan menulis dibagian komentar sehingga saya dapat meningkatkan kualitas artikel ini.

Salam,

Low Risk, Sure Gain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *